Berita & Agenda : Friday, 8 May 2020 | 62 Views |

Bagaimana Masyarakat Turut Mempengaruhi Gaya Arsitektur

“Para Mahasiswa Calon Perancang Kota Surabaya: Siapakah Yang Menentukan Gaya dan Karakter Sebuah Kota? ”

mau tema apa kotanya?
Klasik seperti Roma atau modern seperti hongkong?
Perkembangan kota di Indonesia tergantung selera masyarakatnya atau selera pejabatnya?
Perkembangan kota-kota di Indonesia memberi pengaruh pada tata kota serta arsitekturnya. Dengan tren global yang semakin berpengaruh, wajah kota pun cenderung melebur dengan tren, Apalagi semakin meningkatnya kepadatan penduduk menimbulkan banyaknya pembangunan pada permukiman dan fasilitas umum di berbagai kota besar. Perencanaan dan perancangan dalam arsitektur telah tumbuh dan berkembang tidak semata menggunakan pendekatan teknis-rasional, akan tetapi juga memiliki unsur moral dan politik, berkeadilan sosial, dan memberi kekuasaan pengambilan keputusan pada masyarakat (citizen empowerment). Hal ini akan menghasilkan beberapa paradigma perencanaan dan perancangan partisipatif dimana dalam proses perancangan maupun pembangunan sebuah lingkungan atau kawasan kota menjadi dasar dalam menggerakkan dan mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Karena masyarakat dan kehidupannya merupakan realitas sosial yang tidak boleh diabaikan, mereka merupakan potensi sekaligus pengguna setiap karya arsitektur, sehingga antara masyarakat dan rancangan arsitektur memiliki kesesuaian.

Dosen Prodi Arsitektur Ririn Dina Mutfianti, S.T., M.T. Menjelaskan bahwa dalam kajian arsitektur terdapat perancangan kota dimana pemerintah melakukan kajian kewilayahan mulai dari masterplan, Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RT&RW), Rencana Detail tata Ruang Kota (RDTRK), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) sampai Rencana Teknis (RT). Masing-masing jenis Proyek ini melakukan kajian bersama banyak stake holder, pimpinan komunitas dan para wakil masyarakat dengan proses FGD (Fokus Group Discussion) yang dilakukan 3 hingga 4x pertemuan untuk mengetahui keinginan dan kondisi masyarakat. Karena secara umum perkembangan wajah kota tak bisa dilepaskan dari jaman ke jaman dalam masyarakat dan hal ini berhubungan erat dengan perekonomian kota. Sebagai contohnya, Kota Roma di Italia yang bertahan sebagai kota klasik. Hal ini disebabkan kota Roma sudah punya ‘bahan’nya sehingga seluruh kota sampai sudut-sudutnya masih kental dengan ke gaya klasiknya. Lalu mengapa kenapa kota Surabaya yang juga punya kawasan bangunan lawas tidak bisa menjadi kota klasik? Hal ini dikarenakan Surabaya terdiri dari masyarakat yang heterogen atau banyak kalangan. maka akhirnya, perkembangan kota Surabaya diarahkan sesuai dengan potensi lokalitas atau areanya saja. Area yang masih kental gaya klasik kolonial dijaga agar tetap klasik kolonial, Area yang berkembang menjadi modern akan terus dikembangkan ke arah yang modern. Jadi, dari penjelasan Bu Ririn dapat disimpulkan bahwa perkembangan karakter bangunan sebuah kota itu bukan dari pemerintahnya, namun dari masyarakatnya

20200508_145021
Foto : Mahasiswa UWIKA Semester enam Prodi Arsitektur yang baru-baru ini memanfaatkan sosial media Instagram menunjukan hasil karya bangunan berbagai museum Surabaya mereka ke masyarakat.

Di Universitas Widya Kartika sendiri, para mahasiswanya semester enam Prodi Arsiektur terus dipacu untuk tetap aktif mengembangkan potensinya, agar mampu berkolaborasi dalam mewujudkan lingkungan masyarakat yang berkelanjutan, meskipun sedang menemui keterbatasan belajar karena masa pandemi. Mereka juga memanfaatkan media sosial Instagram untuk meng-upload hasil karya FGD desain arsitektur berbagai bangunan museum di kota Surabaya. Hasil karya mereka sangat unik dan semuanya menyesuaikan pola masyarakat juga budaya Surabaya. Ada yang mendesain Museum Permainan Tradisional yang bangunannya didesain serupa dengan alat permainan tradisional congklak dan otok-otok, Ada yang mendesain museum tranportasi dengan gaya yang terinspirasi dengan alat transportasi kuno kota Surabaya yaitu trem, Museum Perdagangan yang desainnya terinspirasi dari aktifitas perdagangan masyarakat sehari-hari, Museum Makanan tradisional khas Surabaya, Museum Budaya kota Surabaya, Museum Perjuangan & Seni Surabaya, Desain dan penjelasan selengkapnya dapat kita lihat pada Instagram Bu Ririn @airbening.din .

Pendidikan Arsitektur di UWIKA lebih menspesialisasikan ke small scale building dan arsitektur lingkungan menjadi salah satu visi pendidikan yang berorientasi ke pendidikan keprofesian, sehingga diusahakan untuk memenuhi 13 kompetensi arsitek Indonesia. Dalam memenuhi hal tersebut, mahasiswa diajak untuk paham desain arsitek itu sendiri melalui mata kuliah desain arsitektur, struktur dan konstruksi juga sistem pada bangunan yang lain. Memahami kota di mata kuliah perancangan kota, Paham tentang permukiman di mata kuliah permukiman, bahkan mahasiswa bisa lebih dalam memahami kondisi di lapangan melalui praktek kerja. Merekalah yang nantinya akan mengemban tugas sebagai pendesain kota-kota masa depan dan berkolaborasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Semangat terus buat para UWIKAnial prodi Arsitektur!

20200508_145017
Foto : Bu Ririn (yang berkerudung) beserta beberapa dosen Teknik dan Rektor UWIKA

Switch to our mobile site